Jambi – Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menggelar rapat kerja (raker) pada Rabu (5/2). Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi dalam membangun visi UIN Jambi sebagai salah satu kampus besar.
Pada sesi kedua, raker menghadirkan Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis), Prof. Suyitno, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya kebijakan strategis untuk memperkuat posisi UIN Jambi. Kampus ini tidak hanya harus besar secara wilayah, tetapi juga memiliki modal sosial dan kualitas akademik yang unggul.
Prof. Suyitno menjelaskan bahwa ada tiga pilihan arah pengembangan kampus, yaitu menjadi Entrepreneur University, Educational University, atau World-Class University. Masing-masing pilihan memiliki konsekuensi tersendiri, tetapi semuanya dapat membawa UIN Jambi dikenal dunia. Oleh karena itu, Prof. Suyitno mengingatkan agar tidak terjebak dalam istilah semata, melainkan lebih menekankan pada konten dan substansi.
“UIN Jambi harus mencari keunggulan yang bisa dijadikan branding dan inovasi, sesuatu yang tidak dimiliki kampus lain,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti tiga visi utama Menteri Agama yang harus diimplementasikan dalam kebijakan kampus. Pertama, penguatan nasionalisme di tengah pluralisme yang semakin mengikis rasa cinta tanah air. Untuk itu, Surat Edaran (SE) Nomor 1 Tahun 2025 tentang menyanyikan lagu Indonesia Raya guna memperkuat nilai-nilai kebangsaan di lingkungan akademik.
Kedua, pentingnya menanamkan sikap toleransi di kalangan mahasiswa dan civitas akademika. Masih maraknya ujaran kebencian antarumat menjadi perhatian utama, sehingga pemerintah sedang menyusun kurikulum cinta berbasis Panca Cita.
Ketiga, isu lingkungan dan perubahan iklim juga menjadi fokus utama. UIN Jambi diharapkan memiliki strategi nyata dalam menyelamatkan bumi. Salah satu langkah yang diusulkan adalah program penghijauan kampus dengan mewajibkan setiap civitas akademika menanam pohon.
Selain itu, Dirjen Pendis juga menyoroti Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi yang masih rendah, yakni 31 persen. UIN Jambi diminta lebih agresif dalam menarik mahasiswa baru dengan berbagai skema penerimaan. Terlebih, PTKIN merupakan kampus dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) paling terjangkau.
Dengan strategi yang tepat, UIN Jambi diharapkan mampu menjadi perguruan tinggi Islam yang berdaya saing global dan tetap mengedepankan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, serta keberlanjutan lingkungan.
Oleh: Syafitri Handayani (HUMAS UIN)












