Prof. Dr. Risnita menjelaskan bahwa pendidikan hari ini dihadapkan pada dominasi pendekatan kognitif, maraknya kekerasan di lingkungan belajar, serta melemahnya nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, Kurikulum Cinta dirancang untuk mengembalikan fungsi pendidikan sebagai ruang pembentukan karakter yang utuh—meliputi kecerdasan intelektual, kedewasaan emosional, dan kekuatan spiritual.
Pada sesi pemaparannya, Prof. Dr. Risnita menegaskan bahwa Kurikulum Cinta hanya dapat diimplementasikan melalui pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada pengalaman langsung. Melalui model experiential learning, peserta didik diajak merasakan, mengalami, dan mempraktikkan nilai kasih sayang dalam aktivitas nyata. Pendekatan ini dipadukan dengan deep learning yang menekankan proses belajar yang mindful, bermakna, dan menggembirakan.
Dalam penyampaiannya, Prof. Dr. Risnita menegaskan bahwa berbagai persoalan moral yang muncul di lingkungan pendidikan merupakan alarm penting bagi dunia akademik. “Kekerasan, intoleransi, dan memudarnya empati adalah tanda bahwa sistem pendidikan kita mengalami defisit nilai. Jika masalah ini tidak ditangani, pendidikan hanya akan menghasilkan generasi cerdas, tetapi tidak berperilaku,” tegasnya.
Di akhir sesi, Prof. Dr. Risnita menyatakan bahwa Kurikulum Cinta bukan sekadar konsep, melainkan kebutuhan mendesak yang harus diwujudkan agar pendidikan kembali pada hakikatnya: memanusiakan manusia. Ia berharap nilai-nilai kasih sayang dapat diterapkan secara konsisten dalam kurikulum dan praktik pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan.








